PERKEMBANGAN BAHASA ANAK
2.1 Pengertian Perkembangan Bahasa Anak
Perkembangan bahasa sebagai salah
satu dari kemampuan dasar yang harus dimiliki anak, sesuai dengan tahapan usia
dan karakteristik perkembangannya. Perkembangan adalah suatu perubahan yang berlangsung
seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi
seperti biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Bahasa adalah suatu sistem simbol
untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti),
sintaksis (tata bahasa), semantik (variasi arti), dan pragmatik (penggunaan)
bahasa. Dengan bahasa, anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran,
maupun perasaannya pada orang lain.
2.2
Hakikat Perkembangan Bahasa Anak
Bayi mulai
memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu tahun, sebelum dapat
mengucapkan suatu kata. Mereka memperhatikan muka orang dewasa dan menanggapi
orang dewasa, meskipun tentu saja belum menggunakan bahasa dalam arti yang
sebenarnya. Mereka juga dapat membedakan beberapa ucapan orang dewasa. (Eimas,
lewat Gleason, 1985: 2).
Selanjutnya ketika berumur satu
tahun, bayi mulai mengoceh, bermain dengan bunyi seperti halnya bermain dengan
jari-jari tangan dan jari-jari kakinya. Seperti halnya kemampuan berjalan,
kemampuan berbicara anak-anak seluruh dunia mulai pada umur yang hampir sama
dan dengan cara yang hampir sama pula. Perkembangan bahasa pada periode ini
disebut perkembangan pralinguistik (Gleason, 1985: 3).
Ketika bayi mulai dapat mengucapkan
beberapa kata, perkembangan bahasa mereka juga memiliki ciri-ciri yang
universal. Bentuk ucapan yang digunakan hanya satu kata, kata-katnya sederhana
yaitu yang mudah diucapkan dan memiliki arti kongkret. Perkembangan fonologis
mulai tampak pada periode umur ini, demikian juga perkembangan semantik yaitu
pengenalan makna oleh anak.
Kira-kira ketika anak berumur dua
tahun, setelah mengetahui kurang lebih lima puluh kata, kebanyakan anak mulai
mencapai tahap kombinasi dua kata. Kata-kata yang diucapkan mencapai tahap satu
kata kombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan,
atau bentuk-bentuk lain yang seharusnya digunakan.
Pada waktu mulai masuk taman
kanak-kanak, anak-anak telah memiliki sejumlah besar kosakata. Mereka dapat
membuat pertanyaan, pernyataan negatif, kalimat majemuk dan berbagai bentuk
kalimat. Mereka memahami kosakata lebih banyak. Mereka dapat bergurau,
bertengkar dengan teman-temannya dan berbicara dengan sopan dengan orangtua dan
guru mereka.
Selama
periode usia sekolah dasar, anak-anak dihadapkan pada tugas utama mempelajari
bahasa tulis. Perkembangan bahasa anak pada periode usia sekolah dasar ini
meningkat dari bahasa lisan ke bahasa tulis.
Pada masa
perkembangan selanjutnya, yakni pada usia remaja, terjadi perkembangan bahasa
yang penting. Periode ini menurut Gleason merupakan umur yang sensitif untuk
belajar bahasa.
Pada usia
dewasa terjadi perbedaan-perbedaan yang sangat besar antara individu yang satu
dan yang lain dalam perkembangan bahasanya.. hal ini tergantung pada tingkat
pendidikan, peranana dalam masyarakat, dan jenis pekerjaan. Keterampilan
berpikir diperlukan agar semua aspek keterampialan berbahasa berkembang.
Plaget, Bruner, dan Vygatsky telah mengemukakan teori-teori perkembangan
kognitif yang paling komprehensif ( Athey, lewat Ross dan Roe, 1990: 36).
Ketiga pakar tersebut mengetahui bahwa ada hubungan antara pikiran dan bahasa,
tetapi mereka berbeda dalam hal cara pikiran dan bahasa itu berhubungan.
Vygatsky yakin bahwa bahasa merupakan dasar bagi pembentukan konsep dan
pikiran. Kegiatan berpikir tidak mungkin terjadi tanpa menggunakan kata-kata
untuk mengungkapkan buah pikiran. Dia menegaskan bahwa bahasa diperlukan untuk
setiap jenis kegiatan belajar. Berbeda dengan Vygastsky, Plaget mengatakan
bahwa bahasa itu penting untuk beberapa jenis kegiatan belajar tetapi tidak
untuk semua kegiatan belajar. Plaget mengatakan bahwa perkembangan kognitif
anak melebihi perkembangan bahasanya.
Bruner
mengidentifikasi tiga fase perkembangan. Yang pertama disebut periode enaktif,
yang kedua adalah periode ekonik, yang terakhir disebut periode simbolik. Piaget
menawarkan fase perkembangan kognitif yaitu sensorimotor, praoperasional,
operasional konkret, dan operasional-formal. Perbandingan perkembangan kognitif
menurut Piaget dan perkembangan bahasa dapat dilihat pada figur berikut (Ross
dan Roe. 1990: 38).
|
Perkiraan Umur
|
Fase-fase Perkembangan Kognitif menurut Piaget
|
Fase-fase Perkembangan Kebahasaan
|
|
Lahir- 2
tahun
|
Periode
sensorimotor, anak memanipulasi objek dilingkungannya dan mulai membentuk
konsep
|
Fase
Fonologis, anak bermain dengan bunyi-bunyi bahasa mulai mengoceh sampai
menyebutkan kata-kata sederhana.
|
|
2-7 tahun
|
Periode
Praoperasional, anak memahami pikiran simbolik, tetapi belum dapat berpikir
logis
|
Fase
Sintaktis, anak menunjukkan kesadarn gramatis; berbicara menggunakan kalimah
|
|
7-11 tahun
|
Periode Operasional,
anak dapat berfikir logis mengenai benda-benda kongkrit
|
Fase
Semantik, Anak dapat membedakan kata sebagai simbol dan konsep yang
terkandung dalam kata.
|
Awal usia
sekolah merupakan periode berkembangnya kreativitas kebahasaan yang diisi dengan
sajak, nyanyian, dan permainan kata. Perkembangan bahasa yang paling jelas
tampak ialah perkembangan semantik dan pragmatik. Kemampuan metalinguistik,
yaitu kesadaran yang memungkinkan pengguna bahasa berpikir tentang bahasa dan
melakukan refleksi, juga menjadi semakin berkembang pada usia sekolah.
2.3 Perkembangan Pragmatik
Selama
periode usia sekolah, proses kognitif meningkat sehingga memungkinkan anak
menjadi komunikator yang lebih efektif. Secara umum, anak kurang dapat menerima
pandangan orang lain. Kemampuan menerima (pandangan) orang lain memungkinkan
pembicara atau pendengar menggunakan dan memahami kata ‘di sini” dan ‘di sana”
dengan tepat (dari pandangan pembicara).
Anak-anak
mulai mengenal adanya berbagai pandangan mengenai suatu topik. Mereka dapat
mendeskripsikan sesuatu, tetapi deskripsi yang mereka buat lebih bersifat
personal dan tidak mempertimbangkan makna informasi yang disampaikannya bagi
pendengar.
Kemampuan Membuat Cerita
Anak-anak
berumur lima dan enam tahun menghasilkan berbagai macam cerita. Cerita-cerita
anekdot yang paling banyak menghasilkan. Isinya tentang hal-hal yang terjadi
yang terjadi di rumah mereka masing-masing dan di masyarakat sekitarnya.
Cerita-cerita tersebut mencerminkan kelompok sosial budaya dan suasana yang berbeda-beda.
Kemampuan
membuat cerita tersebut seharusnya sudah diperkenalkan pada usia prasekolah,
meskipun masih sangat sederhana, yakni selama kegiatan mengasuh anak, bermain,
dan membacakan cerita kepada anak-anak. Pada waktu berada di kelas dua, anak-anak
mulai dilatih menggunakan kalimat yang agak panjang dengan konjungsi; dan,
lalu, dan kata depan: di, ke, dari. Meskipun plot (alur) cerita belum jelas,
anak-anak sudah dapat dilatih bercerita mengenai beberapa kejadian secara
kronologis.
Perkembangan Kemampuan Membuat Cerita
Anak-anak
berumur enam tahun sudah dapat bercerita sederhana tentang acara televisi atau
film yang mereka lihat. Kemampuan ini selanjutnya berkembang secara teratur,
sedikit demi sedikit. Mereka belajar menghubungkan kejadian tetapi bukan yang
mengandung hubungan sebab-akibat. Pada usia tujuh tahun anak-anak mulai dapat
membuat cerita yang agak padu. Pada umur delapan tahun anak-anak menggunakan
penanda awal dan akhir cerita, misalnya
“Akhirnya mereka hidup rukun”.
Perbedaan Bahasa Anak Laki-laki dan Perempuan
Perbedaan
bahasa anak laki-laki dan perempuan dapat dilihat pada kosakata yang digunakan
dan gaya bicara.
Penggunaan Kosakata
Perbedaan
kosakata yang digunakan oleh anak laki-laki dan perempuan pada umumnya ada pada
pilihan katanya. Pada umumnya anak perempuan menghindari bahasa yang berisi
umpatan dalam percakapan dan cenderung menggunakan kata-kata yang lebih sopan.
Perbedaan yang cukup besar juga dapat dilihat pada ekspresi emosional atau rasa
sayang. Wanita cenderung menggunakan ekspresi: Oh Sayangku, Ya, Allah.
Sedangkan laki-laki cenderung menggunakan umpatan: sialan.
Wanita
cenderung menggunakan cara-cara tidak langsung dalam meminta persetujuan dan
lebih banyak mendengarkan, sedangkan laki-laki cenderung memberitahu. Cara
orang tua berbicara dengan anak perempuan dan anak laki-laki mereka bervarisi.
Ayah lebih banyak menggunakan perintah ketika berbicara dengan anak
laki-lakinya. Ayahnya juga lebih banyak mengiterupsi pembicara anak perempuan.
2.4
Perkembangan Sematik
dan Kognitif
Selama periode usia sekolah dan sampai
dewasa, setiap individu meningkatkan jumlah kosakata dan makna khas istilah.
Dalam proses tersebut seseorang menyusun kembali aspek-aspek kebahasaan yang
telah dikuasainya. Susunan baru yang dihasilkanya itu cerminan dalam cara
seseorang menggunakan kata-kata. Sebagai dampaknya ialah danya perkembangan
penggunaan bahasa figuratif atau kreativitas berbahasa yang cukup pesat.
Keseluruhan proses perkembangan semantik yang mulai pada tahun-tahun awal
sekolah dasar ini dapat dihubungkan dengan keseluruhan proses kognitif (Owens,
1992: 374).
Perkembangan Kosakata
Selama
periode usia sekolah dan dewasa, ada dua jenis penambahan makna kata. Secara
horizontal, anak-anak semakin mampu memahami dan dapat menggunakan suatau kata
dengan makna yang tepat.
Dalam
proses mengedintifikasikan kata-kata baru atau mendefinisikan kata-kata lama
(yang sudah diketahui salah satu artinya) pada dasarnya anak membentuk makna.
Makna ini dibentuk kembali atau ditegaskan lewat penggunaan bahasa.
Dikelas
rendah sekolah dasar juga terjadi perkembangan dalam penggunaan istilah-istilah
yang menyatajan tempat. Penggunaan istilah-istilah yang umum atau yang tidak
spesifik berkurang dan terjadi peningkatan penggunaan istilah-istilah yang
menunjukan tempat yang bersifat khas.
Kemampuan
anak
membuat definisi sangat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya. Apabila anak
banyak memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap dengan orang tua atau
saudara-saudaranya, dia memperoleh kesempatan tantangan untuk menjelaskan
maksudnya kepada orang lain.
Pengetahuan
kosakata mempunyai kolerasi (hubungan) dengan kemampuan kebahasaan secara umum.
Anak menguasai banyak kosa kata lebih mudah memahami wacana. Anak berumur lima
tahun mendefinisikan suatu kata secara sempit sedangkan anak berumur sebelas
tahun membentuk definisi dengan menggabungkan makna-makna yang telah
diketahuinya. Dengan demikian definisinya menjadi lebih luas.
Bahasa
Figuratif
Anak
usia sekolah juga mengembangkan bahasa figuratif yang memungkinkan penggunaan
bahasa secara benar-benar kreatif. Bahasa figuratif menggunakan kata-kata
secara imajinatif, tidak secara literal, untuk menciptakan kesan emosional atau
imajinatif. Yang termasuk jenis bahasa figuratif ialah ungkapan, metafora,
kiasan, dan perbahasa.
Anak-anak
persekolahan menciptakan banyak kiasan dan metafora. Namun, hal ini tidak
berarti bahwa mereka dapat menggunakan bahasa figuratif. Kreativitas berbahasa
pada anak-anak kecil disebabkan oleh ketidak-tahuan atau keterbatasan
penguasaan bahasa. Setelah berumur lebih dari enam tahun, penggunaan metafora
secara spontan dalam percakapan menjadi semakin kurang. Dua kemungkinan sebab
penurunan penggunaan metafora ini, yang pertama anak telah memiliki sejumlah
kosakata dasar, yang kedua adanya latihan berbahasa berdasarkan kaidah bahasa
yang diberikan di sekolah membatasi kreativitas.
Anak
berumur 5 tahun sampai 7 tahun lebih suka menghubungkan dua istilah daripada
menyamakannya. Anak berumur 6-7, atau 8 tahun menafsirkan peribahasa secara
literal.
2.5
Perkembangan Morfologi
dan Sintaktik
Perkembangan
bahasa pada periode usia sekolah mencakup perkembangan secara serentak
(simultan) bentuk-bentuk sintaktik yang telah ada dan pemerolehan bentuk-bentuk
baru. Anak memperluas kalimat dengan menggunakan frase nomina dan frase verba.
Fungsi-fungsi kata ganti juga diperluas.
Anak-anak memepelajari bentuk-bentuk morfem
mula-mula bersifat hafalan. Hal ini kemudian diikuti dengan membuat kesimpulan
secara kasar tengtang bentuk dan makna fonem. Akhirnya anak membentuk kaidah.
Proses yang rumit ini dimulai pada periode prasekolah dan terus berlangsung
sampai pada masa adolesen.
2.6
Perkembangan Frase
Nomina dan Verba
Anak-anak berumur 5 sampai 7 tahun
menggunakan hampir semua elemen frase nomina dan verba tetapi sering
meninggalkan elemen-elemen tersebut meskipun sebenarnya hal itu diperlukan.
Bagi anak, bentuk-bentuk verba lebih sulit
daripada bentuk-bentuk nomina. Kesulitan ini mungkin berkaitan dengan berbagai
perbedaan bentuk kata kerja yang menyatakan arti yang berbeda.
Bentuk-bentuk Kalimat
Anak
sering mengaalami kesulitan membedakan bentuk pasif dan aktif. Khususnya
pengenalan bentuk positif menimbulkan masalah bagi anak. Anak-anak jarang
menggunakan bentuk pasif. Bahkan orang dewasa pun tidak sering menggunakan
bentuk pasif. Bahkan orang dewasa pun tidak sering menggunakan bentuk pasif.
Hal ini berbeda dengan pemakai bahasa Melayu yang lebih banyak menggunakan
bentuk pasif daripada bentuk aktif.
Anak-anak sering mengalai kesulitan dalam
memahami dan menggunakan kata “karena”. Untuk memahami kalimat dengan kata
sambung “karena”, anak harus memahami tidak hanya hubungan antara dua kejadian
tetapi juga urutan waktunya. Pemahaman kata “karena” baru mulai berkembang pada
umur 7 tahun secara konsisten benar baru terjadi pada kurang lebih umur 10 atau
11.
2.7
Perkembangan Fonologis
Pada awal usia sekolah anak-anak sudah dapat
mengucapkan semua bunyi bahasa. Namun,
bunyi-bunyi tertentu terutama yang berupa klaster masih sulit bagi mereka yang
mengucapkannya. Kompetensi
fonemik tampak jelas dalam kemampuan anak mengenal irama. Pada usia prasekolah
anak-anak menjadi sensitive terhadap
pola fonetik dan sering membuat irama
kata-kata dengan mengganti suatu bunyi atau suku kata, sehingga mengucapkannya:
dag, dig, dug atau ini ani, ini ima.
Sebelum
masa usia sekolah anak-anak belum memahami
dasar kesamaan bunyi , meskipun anak-anak prasekolah mengetahui baha
kata “sudah” berbeda dengan kata “mudah”, tetapi berbeda dengan orang orang
dewasa mereka tidak menyadari bahwa perebedaan tersebut hanya pada fonem “s”
dan “m” pada awal kata.
2.8
Perkembangan Morfofonemik
Perubahan
morfofonemik adalah modifikasi fonologis atau bunyi yang terjadi apabila morfem-morfem digabungkan.contoh
cetak berubah menjadi cetakan (k diucap jelas). Sebelum usia prasekolah, anak juga
mempelajari konteks, perubahan vocal.
Perkembangan Membaca dan Menulis
a.
Perkembangan Membaca
Sebagai
halnya berbicara, kemampuan awal dalam membaca mungkin diperoleh lewat
interaksi social tidak lewat pembelajaran formal. Dalam kegiatan me4mbacakan
cerita yang dilakukan oleh orang tua, tampak baik orang tua maupun anak
berpartisipasi dalam kediatan social
Orang tua sebaiknya memperkenalkan buku-buku cerita kepada anak
sedini mungkin. Tentu saja bukun yang digunkan adalah yang banyak gambarnya dan
berwarna warni sehingga menarik perhatian anak.
Ada
beberapa fase perkembangan membaca. Dalam frase pembaca, yang terjadi sebelum
umur 6 tahun, anak-anak mempelajario tentang huruf dan perbedaan angka yang
satu dengan yang lainnya.
Pada fase ke-1, yaitu sampai dengan kira-kira kelas dua, anak
memusatkan pada kata-kata lepas dalam sederhana supaya dapat membaca, anak
perlu mengetahui system tulisan, cara mencapai kelancaran membaca, terbebas
dari kesalahan pembaca
Pada umur 7 atau 8 kebanyakan anak telah
memperoleh pengetahuan tentang huruf, suku kata dan kata yang diperlukan untuk
dapat membaca
Pada fase ke-2, kira-kira ketika berada dikelas tiga dan empat
anak menganalisis kata-kata yang tidak diketahuinya menggunakan pola tulisan
dan kesimpulan yang didasarkan konteksnya.
Pada
fase ke-3, dari kelas empat samapi dengan dua SLTP tampak adanya perkembangan
pesat dalam membaca yaitu tekanan membaca tidak lagi pengenalan tulisan tetapi
pada pemahaman . pada fase ke-4, yakni akhir SLTP sampai dengan SLTA, remaja
menggunakan keterampilan tingkat tinggi misalnya inferensi(penyimpulan) dan
pengenalan pandangan penilis untuk meningkatkan pemahaman akhirnya pada fase
ke-5, tingkat perguruan tinggiseterusnya, atau orang dewasa dapat
mengintegrasikan hal-hal yang dibaca dengan pengetahuan yang dimilikinya dan
menanggapi kritis materi(Owens. 1992;400-401)
b.
Perkembangan Menulis
Ada
kesejajaran antara perkermbangan kemampuan membaca dan menulis. Pada umumnya
penulis yang baik adalah pembaca yang baik, demikian juda sebaliknya. Proses
menulis dekat dengan menggambar, dalam hal keduanya mewakili symbol tertentu.
Namun, menulis berbeda dengan menggambar dan hal ini diketahui oleh anak ketika
berumur 3 tahu(Gibson dan Levis, leat Oens, 1992;403)
Anak
anak mulai dengan meggambar, kemudian menulid”cakar ayam”, barulah membuat
bentuk-bentuk huruf. Mula-mula anak sekolah menulis , meskipun ia tidaak
mengetahui nama—nama huruf.
Anak mencoba menggunakan aturan
dalam menulis dan menulis dengan mencocokan bunyi dan tulisan. Bunyi-bunyi
dalam nama huruf dicocokan dengan bunyi-bunyi yang didngarnya.
2.9
Tahap-tahap
Perkembangan Bahasa Anak
1. Tahap
Pralinguistik (masa Meraba)
Pada
tahap ini bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan anak belum bermakna. Bunyi-bunyi
itu memang telah menyerupai vocal atau konsonan tertentu.
Pada perkembangan bahasa
anak terdapat beberapa fase yang berlangsung sejak anak lahir sampai berumur 12
bulan.
a. Pada
umur 0-2 bulan anak hanya mengeluarkan bunyi-bunyi reflektif untuk menyatakan
lapar, sakit atau ketidaknyamanan.
b. Pada
umur 2 – 5 bulan anak mulai mendekut dan mengeluarkan bunyi-bunyi vocal yang
bercapur dengan bunyi-bunyi mirip konsonan.
c. Pada
umur 4 – 7 bulan anak mulai mengeluarkan bunyi agak utuh dengan durasi (rentang
waktu) yang lebih lama.
d. Pada
umur 6 – 12 bulan anak mulai berceloteh. Celotehannya berupa reduplikasi atau
pengulangan konsonan dan vocal yang sama
seperti ba ba ba, ma ma ma
2. Tahap
satu kata
Fase
ini berlangsung ketika anak berusia 12 – 18 bulan. Pada masa ini anak
menggunakan satu kata yang memiliki arti yang mewakili keseluruhan idenya. Tegasnya,
satu kata meakili satu atau bahkan lebih frase atau kalimat. Oleh karena itu
frase ini disebut juga tahap holofrasis
Contoh satu kata: mimi
! ( sambil menunjuk cangkirnya), akut (sambil menunjukan laba-laba)
3. Tahap
dua kata
Fase
ini berlangsung seaktu nak berusia sekitar 18 – 24 bulan, pada masa ini,
kosakata dan gramatika berkembang dengan cepat. Anak-anak mulai menggunakan dua
kata dalam berbicara. Tuturnya mulai bersifat telegrafik. Artinya apa yang
dituturkan anak hanyalah kata-kata yang penting saja, seperti kata benda, kata
sifat, dan kata kerja. Kata kata yang tidak pebting seperti halnya kalu kita
menulis telegram dihilangkan. Contoh dua kata :
bapa ana! Mamah, makan!
4.
Tahap banyak kata
Fase
ini berlangsung ketika anak berusia 3-5 tahun atau bahkan sampai mulai
bersekolah. Pada usia 3-4 tahun, tuturan anak mulai lebih panjang dan
tatabahasanya lebih teratur. Dia tidak lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi
tiga kata atau lebih. Pada umur 5-6
tahun bahasa anak telah menyerupai
bahasa orang dewasa, sebagian bear aturan gramatika telah dikuasainya
dan pola bahasa serta tuturannya semakin bervariasi.
Pada tahap
perkembangan bahasa yang dipelajarinya berkembang pula penguasaan mereka atas
system bahasa yang dipelajarinya, system bahasa itu sendiri atas subsistem
berikut;
1.
Fonologi, yaitu pengetahuan tentang
pelafalan dan penggabungan bunyi-bunyi tersebut sebagai sesuatu yang bermakna
2.
Gramatika (tata bahasa) yaitu
pengetahuan tentang aturan pembentukan unsure tuturan
3.
Semantic leksikal(kosakata) yaitu
pengetahuan tentang kata untuk mengacu kepada sesuatu hal
4.
Pragmatic, yaitu pengetahuan tentang
penggunaan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan.
Sub-subsistem tersebut diperoleh anak
secara bersamaan dengan keterampilan berbahasanya itu sendiri.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
1.
Dilihat dari
Hakikat perkembangan bahasa anak, bayi mulai
memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu tahun, Selanjutnya ketika
berumur satu tahun, bayi mulai mengoceh, bermain dengan bunyi. Ketika anak
berumur dua tahun, setelah mengetahui kurang lebih lima puluh kata, kebanyakan
anak mulai mencapai tahap kombinasi dua kata. Waktu mulai
masuk taman kanak-kanak, anak-anak telah memiliki sejumlah besar kosakata. Pada masa perkembangan selanjutnya, yakni pada usia remaja, terjadi
perkembangan bahasa yang penting. Pada usia dewasa terjadi perbedaan-perbedaan
yang sangat besar antara individu yang satu dan yang lain dalam perkembangan
bahasanya.
2.
Dilihat dari
Perkembangan pragmatik, selama periode usia sekolah, proses kognitif meningkat
sehingga memungkinkan anak menjadi komunikator yang lebih efektif. Anak-anak
mulai mengenal adanya berbagai pandangan mengenai suatu topik. Mereka dapat
mendeskripsikan sesuatu, tetapi deskripsi yang mereka buat lebih bersifat
personal dan tidak mempertimbangkan makna informasi yang disampaikannya bagi
pendengar.
3.
Dilihat dari
Perbedaan bahasa anak laki-laki dan perempuan, perbedaan bahasa anak laki-laki
dan perempuan dapat dilihat pada kosakata yang digunakan dan gaya bicara.
4.
Dilihat dari
Tahap-tahap Perkembangan bahasa anak, tahap
pralinguistik
(masa Meraba), tahap satu kata, tahap dua kata dan tahap banyak kata.
5. Dilihat
dari implikasi
perkembangan bahasa anak dalam proses pembelajaran, yaitu untuk menciptakan
situasi yang memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan
bahasanya. Kesempatan ini dapat di lakukan
melalui kegiatan bercerita, bertanya dan menjawab pertanyaan. Dan juga dapat menyediakan sarana pendukung
perkembangan bahasa anak. Misalnya, menyediakan alat permainan.
3.2 Saran
3.2.1 Bagi Pembaca
Saran-saran
yang dapat diberikan penulis pada pembaca yaitu sebagai berikut. Penulis menyarankan agar para
pembaca terlebih dahulu mengerti
pengertian perkembangan
bahasa anak, hakikat perkembangan bahasa anak, dan juga tahap-tahap
perkembangan bahasa anak.
3.2.2 Bagi
Penulis
Dilihat dari hasil yang diperoleh penulis yang kurang memuaskan, alangkah
baiknya bila disetiap pengerjaan makalah ini anggota kelompok saling mendukung
satu sama lain. Oleh karena itu, penulis mengharapkan tegur dan saran dari para
pembaca agar dalam
penulisan selanjutnya lebih baik.