Jumat, 18 April 2014

Makalah "Perkembangan Bahasa Anak"



PERKEMBANGAN BAHASA ANAK

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah
Dosen. Bapak. Dadan Djuanda, M.Pd.

            Disusun oleh :
            Kelompok II
           1.      Arifin Hilmi
           2.      Heny Indriyani
           3.      Novi Kurniasari
            Kelas : PGSD-2B



SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SEBELAS APRIL SUMEDANG
Tahun Akademik 2013/2014




KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirrahim
Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Yang Maha Pengasih atas rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan bagi  kita semua. Berkat rahmat-Nya juga, akhirnya kami sebagai penulis dapat menyesaikan makalah yang berjudul “Perkembangan Bahasa Anak”.
Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul, oleh karena itu penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seorang (bayi-anak) dimulai dengan meraba (suara atau bunyi tanpa arti) dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial. Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelektual sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi yang tingkat intelektual belum berkembang dan masih sangat sederhana, bahasa yang digunakannya sangat sederhana.

Makalah ini dibuat sebagai salah satu syarat mengikuti Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah di Prodi PGSD Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sebelas April Sumedang Tahun Akademik 2013/2014. Selain itu, makalah ini juga dijadikan sebagai sarana pelatihan bagi kami sebagai penulis dalam menerapkan ilmu-ilmu yang diterima selama belajar di STKIP Sebelas April Sumedang, dapat pula dijadikan sebagai bahan perbandingan dan penunjang pelaksanaan  perkuliahan.
Kami menyadari makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan baik isi maupun bentuk penulisannya, karena keterbatasan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang kiranya dapat kami gunakan sebagai masukan untuk perbaikan dimasa yang akan datang.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Bapak Dadan Djuanda, M.Pd. selaku dosen yang telah memberikan bimbingan dan membina penulis dalam menyelesaikan makalah ini;
2.      orangtua yang telah membantu baik moril maupun materil;
3.      rekan-rekan yang ikut membantu dalam penulisan makalah ini.
Atas segala partisipasi dari semua pihak yang telah membantu, kami ucapkan jazakumullahu khairan katsiraa. Akhirnya, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfat bagi kami sebagai penulis khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya.


Sumedang, April 2014


Penulis





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI ...............................................................................................      iii
BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................       1
1.1 Latar Belakang Masalah ..........................................................................      1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................       1
1.3 Tujuan Penulisan .....................................................................................       2
BAB II PERKEMBANGAN BAHASA ANAK.......................................         3
2.1 Pengertian Perkembangan Bahasa Anak .................................................       3
2.2 Hakikat Perkembangan Bahasa Anak .....................................................       3
2.3 Perkembangan Pragmatik ........................................................................      7
2.4 Perkembangan Sematik dan Kognitif .....................................................       9
2.5 Perkembangan Morfologi dan Sintaktik .................................................      11
2.6 Perkembangan Frase Nomina dan Verba ................................................      12
2.7 Perkembangan Fonologis ........................................................................      13
2.8 Perkembangan Morfofonemik .................................................................      13
2.9 Tahap-tahap Perkembangan Bahasa Anak ..............................................      15
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................       18
3.1 Simpulan ..................................................................................................      18
3.2 Saran ........................................................................................................      19
3.2.1 Bagi Pembaca .......................................................................................      19
3.2.2 Bagi Penulis ..........................................................................................      19
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang Masalah
Sejalan dengan perkembangan anak, bahasa yang mereka gunakan pun meningkat dalam hal keluasan serta kerumitan. Anak-anak belajar berkomunikasi dengan orang lain lewat berbagai cara. Meskipun cara anak yang satu dan yang lainnya berbeda, ada hal-hal yang umum yang terjadi pada hampir setiap anak. Pengetahuaan tentang hakikat perkembangan bahasa anak, perkembangan bahasa lisan dan tulis yang terjadi pada mereka, dan perbedaan individual dalam pemerolehan bahasa sangat penting bagi pelaksanaan pembelajaran bahasa anak, khususnya pada waktu mereka belajar membaca dan menulis permulaan. 
1.2         Rumusan Masalah
1.    Bagaimana hakikat perkembangan bahasa anak ?
2.    Apa yang dimaksud dengan perkembangan pragmatik ?
3.    Apa perbedaan bahasa anak laki-laki dan perempuan ?
4.    Apa saja tahap-tahap perkembangan bahasa anak ?
5.    Bagaimana implikasi perkembangan bahasa anak dalam proses pembelajaran ? 
1.3         Tujuan Masalah
1.      mengetahui hakikat perkembangan bahasa anak;
2.      mengetahui pengertian perkembangan pragmatik;
3.      mengetahui perbedaan bahasa anak laki-laki dan perempuan;
4.      mengetahui tahap-tahap perkembangan bahasa anak;
5.      mengetahui implikasi perkembangan bahasa anak dalam proses pembelajaran.















                                                                            BAB II
PERKEMBANGAN BAHASA ANAK

2.1 Pengertian Perkembangan Bahasa Anak
Perkembangan bahasa sebagai salah satu dari kemampuan dasar yang harus dimiliki anak, sesuai dengan tahapan usia dan karakteristik perkembangannya. Perkembangan adalah suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi seperti biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Bahasa adalah suatu sistem simbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti), sintaksis (tata bahasa), semantik (variasi arti), dan pragmatik (penggunaan) bahasa. Dengan bahasa, anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaannya pada orang lain.

2.2  Hakikat Perkembangan Bahasa Anak

Bayi mulai memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu tahun, sebelum dapat mengucapkan suatu kata. Mereka memperhatikan muka orang dewasa dan menanggapi orang dewasa, meskipun tentu saja belum menggunakan bahasa dalam arti yang sebenarnya. Mereka juga dapat membedakan beberapa ucapan orang dewasa. (Eimas, lewat Gleason, 1985: 2).
Selanjutnya ketika berumur satu tahun, bayi mulai mengoceh, bermain dengan bunyi seperti halnya bermain dengan jari-jari tangan dan jari-jari kakinya. Seperti halnya kemampuan berjalan, kemampuan berbicara anak-anak seluruh dunia mulai pada umur yang hampir sama dan dengan cara yang hampir sama pula. Perkembangan bahasa pada periode ini disebut perkembangan pralinguistik (Gleason, 1985: 3).
Ketika bayi mulai dapat mengucapkan beberapa kata, perkembangan bahasa mereka juga memiliki ciri-ciri yang universal. Bentuk ucapan yang digunakan hanya satu kata, kata-katnya sederhana yaitu yang mudah diucapkan dan memiliki arti kongkret. Perkembangan fonologis mulai tampak pada periode umur ini, demikian juga perkembangan semantik yaitu pengenalan makna oleh anak.
Kira-kira ketika anak berumur dua tahun, setelah mengetahui kurang lebih lima puluh kata, kebanyakan anak mulai mencapai tahap kombinasi dua kata. Kata-kata yang diucapkan mencapai tahap satu kata kombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan, atau bentuk-bentuk lain yang seharusnya digunakan.
Pada waktu mulai masuk taman kanak-kanak, anak-anak telah memiliki sejumlah besar kosakata. Mereka dapat membuat pertanyaan, pernyataan negatif, kalimat majemuk dan berbagai bentuk kalimat. Mereka memahami kosakata lebih banyak. Mereka dapat bergurau, bertengkar dengan teman-temannya dan berbicara dengan sopan dengan orangtua dan guru mereka.
Selama periode usia sekolah dasar, anak-anak dihadapkan pada tugas utama mempelajari bahasa tulis. Perkembangan bahasa anak pada periode usia sekolah dasar ini meningkat dari bahasa lisan ke bahasa tulis.
Pada masa perkembangan selanjutnya, yakni pada usia remaja, terjadi perkembangan bahasa yang penting. Periode ini menurut Gleason merupakan umur yang sensitif untuk belajar bahasa.
Pada usia dewasa terjadi perbedaan-perbedaan yang sangat besar antara individu yang satu dan yang lain dalam perkembangan bahasanya.. hal ini tergantung pada tingkat pendidikan, peranana dalam masyarakat, dan jenis pekerjaan. Keterampilan berpikir diperlukan agar semua aspek keterampialan berbahasa berkembang. Plaget, Bruner, dan Vygatsky telah mengemukakan teori-teori perkembangan kognitif yang paling komprehensif ( Athey, lewat Ross dan Roe, 1990: 36). Ketiga pakar tersebut mengetahui bahwa ada hubungan antara pikiran dan bahasa, tetapi mereka berbeda dalam hal cara pikiran dan bahasa itu berhubungan. Vygatsky yakin bahwa bahasa merupakan dasar bagi pembentukan konsep dan pikiran. Kegiatan berpikir tidak mungkin terjadi tanpa menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan buah pikiran. Dia menegaskan bahwa bahasa diperlukan untuk setiap jenis kegiatan belajar. Berbeda dengan Vygastsky, Plaget mengatakan bahwa bahasa itu penting untuk beberapa jenis kegiatan belajar tetapi tidak untuk semua kegiatan belajar. Plaget mengatakan bahwa perkembangan kognitif anak melebihi perkembangan bahasanya.
Bruner mengidentifikasi tiga fase perkembangan. Yang pertama disebut periode enaktif, yang kedua adalah periode ekonik, yang terakhir disebut periode simbolik. Piaget menawarkan fase perkembangan kognitif yaitu sensorimotor, praoperasional, operasional konkret, dan operasional-formal. Perbandingan perkembangan kognitif menurut Piaget dan perkembangan bahasa dapat dilihat pada figur berikut (Ross dan Roe. 1990: 38).
Perkiraan Umur

Fase-fase Perkembangan Kognitif menurut Piaget

Fase-fase Perkembangan Kebahasaan

Lahir- 2 tahun
Periode sensorimotor, anak memanipulasi objek dilingkungannya dan mulai membentuk konsep
Fase Fonologis, anak bermain dengan bunyi-bunyi bahasa mulai mengoceh sampai menyebutkan kata-kata sederhana.

2-7 tahun
Periode Praoperasional, anak memahami pikiran simbolik, tetapi belum dapat berpikir logis
Fase Sintaktis, anak menunjukkan kesadarn gramatis; berbicara menggunakan kalimah

7-11 tahun
Periode Operasional, anak dapat berfikir logis mengenai benda-benda kongkrit
Fase Semantik, Anak dapat membedakan kata sebagai simbol dan konsep yang terkandung dalam kata.

Awal usia sekolah merupakan periode berkembangnya kreativitas kebahasaan yang diisi dengan sajak, nyanyian, dan permainan kata. Perkembangan bahasa yang paling jelas tampak ialah perkembangan semantik dan pragmatik. Kemampuan metalinguistik, yaitu kesadaran yang memungkinkan pengguna bahasa berpikir tentang bahasa dan melakukan refleksi, juga menjadi semakin berkembang pada usia sekolah.

2.3 Perkembangan Pragmatik
Selama periode usia sekolah, proses kognitif meningkat sehingga memungkinkan anak menjadi komunikator yang lebih efektif. Secara umum, anak kurang dapat menerima pandangan orang lain. Kemampuan menerima (pandangan) orang lain memungkinkan pembicara atau pendengar menggunakan dan memahami kata ‘di sini” dan ‘di sana” dengan tepat (dari pandangan pembicara).
Anak-anak mulai mengenal adanya berbagai pandangan mengenai suatu topik. Mereka dapat mendeskripsikan sesuatu, tetapi deskripsi yang mereka buat lebih bersifat personal dan tidak mempertimbangkan makna informasi yang disampaikannya bagi pendengar.
Kemampuan Membuat Cerita
Anak-anak berumur lima dan enam tahun menghasilkan berbagai macam cerita. Cerita-cerita anekdot yang paling banyak menghasilkan. Isinya tentang hal-hal yang terjadi yang terjadi di rumah mereka masing-masing dan di masyarakat sekitarnya. Cerita-cerita tersebut mencerminkan kelompok sosial budaya dan suasana yang berbeda-beda.
Kemampuan membuat cerita tersebut seharusnya sudah diperkenalkan pada usia prasekolah, meskipun masih sangat sederhana, yakni selama kegiatan mengasuh anak, bermain, dan membacakan cerita kepada anak-anak. Pada waktu berada di kelas dua, anak-anak mulai dilatih menggunakan kalimat yang agak panjang dengan konjungsi; dan, lalu, dan kata depan: di, ke, dari. Meskipun plot (alur) cerita belum jelas, anak-anak sudah dapat dilatih bercerita mengenai beberapa kejadian secara kronologis.
Perkembangan Kemampuan Membuat Cerita
Anak-anak berumur enam tahun sudah dapat bercerita sederhana tentang acara televisi atau film yang mereka lihat. Kemampuan ini selanjutnya berkembang secara teratur, sedikit demi sedikit. Mereka belajar menghubungkan kejadian tetapi bukan yang mengandung hubungan sebab-akibat. Pada usia tujuh tahun anak-anak mulai dapat membuat cerita yang agak padu. Pada umur delapan tahun anak-anak menggunakan penanda  awal dan akhir cerita, misalnya “Akhirnya mereka hidup rukun”.
Perbedaan Bahasa Anak Laki-laki dan Perempuan
Perbedaan bahasa anak laki-laki dan perempuan dapat dilihat pada kosakata yang digunakan dan gaya bicara.
Penggunaan Kosakata
Perbedaan kosakata yang digunakan oleh anak laki-laki dan perempuan pada umumnya ada pada pilihan katanya. Pada umumnya anak perempuan menghindari bahasa yang berisi umpatan dalam percakapan dan cenderung menggunakan kata-kata yang lebih sopan. Perbedaan yang cukup besar juga dapat dilihat pada ekspresi emosional atau rasa sayang. Wanita cenderung menggunakan ekspresi: Oh Sayangku, Ya, Allah. Sedangkan laki-laki cenderung menggunakan umpatan: sialan.
Gaya Bercerita
Wanita cenderung menggunakan cara-cara tidak langsung dalam meminta persetujuan dan lebih banyak mendengarkan, sedangkan laki-laki cenderung memberitahu. Cara orang tua berbicara dengan anak perempuan dan anak laki-laki mereka bervarisi. Ayah lebih banyak menggunakan perintah ketika berbicara dengan anak laki-lakinya. Ayahnya juga lebih banyak mengiterupsi pembicara anak perempuan.
2.4 Perkembangan Sematik dan Kognitif
     Selama periode usia sekolah dan sampai dewasa, setiap individu meningkatkan jumlah kosakata dan makna khas istilah. Dalam proses tersebut seseorang menyusun kembali aspek-aspek kebahasaan yang telah dikuasainya. Susunan baru yang dihasilkanya itu cerminan dalam cara seseorang menggunakan kata-kata. Sebagai dampaknya ialah danya perkembangan penggunaan bahasa figuratif atau kreativitas berbahasa yang cukup pesat. Keseluruhan proses perkembangan semantik yang mulai pada tahun-tahun awal sekolah dasar ini dapat dihubungkan dengan keseluruhan proses kognitif (Owens, 1992: 374).

Perkembangan Kosakata
     Selama periode usia sekolah dan dewasa, ada dua jenis penambahan makna kata. Secara horizontal, anak-anak semakin mampu memahami dan dapat menggunakan suatau kata dengan makna yang tepat.
Dalam proses mengedintifikasikan kata-kata baru atau mendefinisikan kata-kata lama (yang sudah diketahui salah satu artinya) pada dasarnya anak membentuk makna. Makna ini dibentuk kembali atau ditegaskan lewat penggunaan bahasa.
Dikelas rendah sekolah dasar juga terjadi perkembangan dalam penggunaan istilah-istilah yang menyatajan tempat. Penggunaan istilah-istilah yang umum atau yang tidak spesifik berkurang dan terjadi peningkatan penggunaan istilah-istilah yang menunjukan tempat yang bersifat khas.
Kemampuan anak membuat definisi sangat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya. Apabila anak banyak memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap dengan orang tua atau saudara-saudaranya, dia memperoleh kesempatan tantangan untuk menjelaskan maksudnya kepada orang lain.
Pengetahuan kosakata mempunyai kolerasi (hubungan) dengan kemampuan kebahasaan secara umum. Anak menguasai banyak kosa kata lebih mudah memahami wacana. Anak berumur lima tahun mendefinisikan suatu kata secara sempit sedangkan anak berumur sebelas tahun membentuk definisi dengan menggabungkan makna-makna yang telah diketahuinya. Dengan demikian definisinya menjadi lebih luas.
Bahasa Figuratif
Anak usia sekolah juga mengembangkan bahasa figuratif yang memungkinkan penggunaan bahasa secara benar-benar kreatif. Bahasa figuratif menggunakan kata-kata secara imajinatif, tidak secara literal, untuk menciptakan kesan emosional atau imajinatif. Yang termasuk jenis bahasa figuratif ialah ungkapan, metafora, kiasan, dan perbahasa.
Anak-anak persekolahan menciptakan banyak kiasan dan metafora. Namun, hal ini tidak berarti bahwa mereka dapat menggunakan bahasa figuratif. Kreativitas berbahasa pada anak-anak kecil disebabkan oleh ketidak-tahuan atau keterbatasan penguasaan bahasa. Setelah berumur lebih dari enam tahun, penggunaan metafora secara spontan dalam percakapan menjadi semakin kurang. Dua kemungkinan sebab penurunan penggunaan metafora ini, yang pertama anak telah memiliki sejumlah kosakata dasar, yang kedua adanya latihan berbahasa berdasarkan kaidah bahasa yang diberikan di sekolah membatasi kreativitas.
Anak berumur 5 tahun sampai 7 tahun lebih suka menghubungkan dua istilah daripada menyamakannya. Anak berumur 6-7, atau 8 tahun menafsirkan peribahasa secara literal.
2.5 Perkembangan Morfologi dan Sintaktik
Perkembangan bahasa pada periode usia sekolah mencakup perkembangan secara serentak (simultan) bentuk-bentuk sintaktik yang telah ada dan pemerolehan bentuk-bentuk baru. Anak memperluas kalimat dengan menggunakan frase nomina dan frase verba. Fungsi-fungsi kata ganti juga diperluas.
     Anak-anak memepelajari bentuk-bentuk morfem mula-mula bersifat hafalan. Hal ini kemudian diikuti dengan membuat kesimpulan secara kasar tengtang bentuk dan makna fonem. Akhirnya anak membentuk kaidah. Proses yang rumit ini dimulai pada periode prasekolah dan terus berlangsung sampai pada masa adolesen.
2.6 Perkembangan Frase Nomina dan Verba
     Anak-anak berumur 5 sampai 7 tahun menggunakan hampir semua elemen frase nomina dan verba tetapi sering meninggalkan elemen-elemen tersebut meskipun sebenarnya hal itu diperlukan.
     Bagi anak, bentuk-bentuk verba lebih sulit daripada bentuk-bentuk nomina. Kesulitan ini mungkin berkaitan dengan berbagai perbedaan bentuk kata kerja yang menyatakan arti yang berbeda.
Bentuk-bentuk Kalimat
     Anak sering mengaalami kesulitan membedakan bentuk pasif dan aktif. Khususnya pengenalan bentuk positif menimbulkan masalah bagi anak. Anak-anak jarang menggunakan bentuk pasif. Bahkan orang dewasa pun tidak sering menggunakan bentuk pasif. Bahkan orang dewasa pun tidak sering menggunakan bentuk pasif. Hal ini berbeda dengan pemakai bahasa Melayu yang lebih banyak menggunakan bentuk pasif daripada bentuk aktif.
     Anak-anak sering mengalai kesulitan dalam memahami dan menggunakan kata “karena”. Untuk memahami kalimat dengan kata sambung “karena”, anak harus memahami tidak hanya hubungan antara dua kejadian tetapi juga urutan waktunya. Pemahaman kata “karena” baru mulai berkembang pada umur 7 tahun secara konsisten benar baru terjadi pada kurang lebih umur 10 atau 11.
2.7 Perkembangan Fonologis
Pada awal usia sekolah anak-anak sudah dapat mengucapkan  semua bunyi bahasa. Namun, bunyi-bunyi tertentu terutama yang berupa klaster masih sulit bagi mereka yang mengucapkannya. Kompetensi fonemik tampak jelas dalam kemampuan anak mengenal irama. Pada usia prasekolah anak-anak menjadi sensitive  terhadap pola  fonetik dan sering membuat irama kata-kata dengan mengganti suatu bunyi atau suku kata, sehingga mengucapkannya: dag, dig, dug atau ini ani, ini ima. Sebelum masa usia sekolah anak-anak belum memahami  dasar kesamaan bunyi , meskipun anak-anak prasekolah mengetahui baha kata “sudah” berbeda dengan kata “mudah”, tetapi berbeda dengan orang orang dewasa mereka tidak menyadari bahwa perebedaan tersebut hanya pada fonem “s” dan “m” pada awal kata.
2.8 Perkembangan Morfofonemik
Perubahan morfofonemik adalah modifikasi fonologis atau bunyi yang terjadi  apabila morfem-morfem digabungkan.contoh cetak berubah menjadi cetakan (k diucap jelas). Sebelum usia prasekolah, anak juga mempelajari konteks, perubahan vocal.
 Perkembangan Membaca dan Menulis
a.    Perkembangan Membaca
Sebagai halnya berbicara, kemampuan awal dalam membaca mungkin diperoleh lewat interaksi social tidak lewat pembelajaran formal. Dalam kegiatan me4mbacakan cerita yang dilakukan oleh orang tua, tampak baik orang tua maupun anak berpartisipasi dalam kediatan social
     Orang tua sebaiknya memperkenalkan buku-buku cerita kepada anak sedini mungkin. Tentu saja bukun yang digunkan adalah yang banyak gambarnya dan berwarna warni sehingga menarik perhatian anak.
Ada beberapa fase perkembangan membaca. Dalam frase pembaca, yang terjadi sebelum umur 6 tahun, anak-anak mempelajario tentang huruf dan perbedaan angka yang satu dengan yang lainnya.
     Pada fase ke-1, yaitu sampai dengan kira-kira kelas dua, anak memusatkan pada kata-kata lepas dalam sederhana supaya dapat membaca, anak perlu mengetahui system tulisan, cara mencapai kelancaran membaca, terbebas dari kesalahan pembaca
       Pada umur 7 atau 8 kebanyakan anak telah memperoleh pengetahuan tentang huruf, suku kata dan kata yang diperlukan untuk dapat membaca
     Pada fase ke-2, kira-kira ketika berada dikelas tiga dan empat anak menganalisis kata-kata yang tidak diketahuinya menggunakan pola tulisan dan kesimpulan yang didasarkan konteksnya.
Pada fase ke-3, dari kelas empat samapi dengan dua SLTP tampak adanya perkembangan pesat dalam membaca yaitu tekanan membaca tidak lagi pengenalan tulisan tetapi pada pemahaman . pada fase ke-4, yakni akhir SLTP sampai dengan SLTA, remaja menggunakan keterampilan tingkat tinggi misalnya inferensi(penyimpulan) dan pengenalan pandangan penilis untuk meningkatkan pemahaman akhirnya pada fase ke-5, tingkat perguruan tinggiseterusnya, atau orang dewasa dapat mengintegrasikan hal-hal yang dibaca dengan pengetahuan yang dimilikinya dan menanggapi kritis materi(Owens. 1992;400-401)
b.        Perkembangan Menulis
Ada kesejajaran antara perkermbangan kemampuan membaca dan menulis. Pada umumnya penulis yang baik adalah pembaca yang baik, demikian juda sebaliknya. Proses menulis dekat dengan menggambar, dalam hal keduanya mewakili symbol tertentu. Namun, menulis berbeda dengan menggambar dan hal ini diketahui oleh anak ketika berumur 3 tahu(Gibson dan Levis, leat Oens, 1992;403)
Anak anak mulai dengan meggambar, kemudian menulid”cakar ayam”, barulah membuat bentuk-bentuk huruf. Mula-mula anak sekolah menulis , meskipun ia tidaak mengetahui nama—nama huruf.
Anak mencoba menggunakan aturan dalam menulis dan menulis dengan mencocokan bunyi dan tulisan. Bunyi-bunyi dalam nama huruf dicocokan dengan bunyi-bunyi yang didngarnya.
2.9 Tahap-tahap Perkembangan Bahasa Anak
1.      Tahap Pralinguistik (masa Meraba)
Pada tahap ini bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan anak belum bermakna. Bunyi-bunyi itu memang telah menyerupai vocal atau konsonan tertentu.
Pada perkembangan bahasa anak terdapat beberapa fase yang berlangsung sejak anak lahir sampai berumur 12 bulan.
a.       Pada umur 0-2 bulan anak hanya mengeluarkan bunyi-bunyi reflektif untuk menyatakan lapar, sakit atau ketidaknyamanan.
b.      Pada umur 2 – 5 bulan anak mulai mendekut dan mengeluarkan bunyi-bunyi vocal yang bercapur dengan bunyi-bunyi mirip konsonan.
c.       Pada umur 4 – 7 bulan anak mulai mengeluarkan bunyi agak utuh dengan durasi (rentang waktu) yang lebih lama.
d.      Pada umur 6 – 12 bulan anak mulai berceloteh. Celotehannya berupa reduplikasi atau pengulangan  konsonan dan vocal yang sama seperti  ba ba ba, ma ma ma
2.      Tahap satu kata
Fase ini berlangsung ketika anak berusia 12 – 18 bulan. Pada masa ini anak menggunakan satu kata yang memiliki arti yang mewakili keseluruhan idenya. Tegasnya, satu kata meakili satu atau bahkan lebih frase atau kalimat. Oleh karena itu frase ini disebut juga tahap holofrasis
Contoh satu kata: mimi ! ( sambil menunjuk cangkirnya), akut (sambil menunjukan laba-laba)
3.      Tahap dua kata
Fase ini berlangsung seaktu nak berusia sekitar 18 – 24 bulan, pada masa ini, kosakata dan gramatika berkembang dengan cepat. Anak-anak mulai menggunakan dua kata dalam berbicara. Tuturnya mulai bersifat telegrafik. Artinya apa yang dituturkan anak hanyalah kata-kata yang penting saja, seperti kata benda, kata sifat, dan kata kerja. Kata kata yang tidak pebting seperti halnya kalu kita menulis telegram dihilangkan. Contoh dua kata :  bapa ana! Mamah, makan!
4.      Tahap banyak kata
      Fase ini berlangsung ketika anak berusia 3-5 tahun atau bahkan sampai mulai bersekolah. Pada usia 3-4 tahun, tuturan anak mulai lebih panjang dan tatabahasanya lebih teratur. Dia tidak lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi tiga kata atau lebih. Pada umur  5-6 tahun bahasa anak telah menyerupai  bahasa orang dewasa, sebagian bear aturan gramatika telah dikuasainya dan pola bahasa serta tuturannya semakin bervariasi.
Pada tahap perkembangan bahasa yang dipelajarinya berkembang pula penguasaan mereka atas system bahasa yang dipelajarinya, system bahasa itu sendiri atas subsistem berikut;
1.      Fonologi, yaitu pengetahuan tentang pelafalan dan penggabungan bunyi-bunyi tersebut sebagai sesuatu yang bermakna
2.      Gramatika (tata bahasa) yaitu pengetahuan tentang aturan pembentukan unsure tuturan
3.      Semantic leksikal(kosakata) yaitu pengetahuan tentang kata untuk mengacu kepada sesuatu hal
4.      Pragmatic, yaitu pengetahuan tentang penggunaan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan.
Sub-subsistem tersebut diperoleh anak secara bersamaan dengan keterampilan berbahasanya itu sendiri.












BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1  Simpulan
1.        Dilihat dari Hakikat perkembangan bahasa anak, bayi mulai memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu tahun, Selanjutnya ketika berumur satu tahun, bayi mulai mengoceh, bermain dengan bunyi. Ketika anak berumur dua tahun, setelah mengetahui kurang lebih lima puluh kata, kebanyakan anak mulai mencapai tahap kombinasi dua kata. Waktu mulai masuk taman kanak-kanak, anak-anak telah memiliki sejumlah besar kosakata. Pada masa perkembangan selanjutnya, yakni pada usia remaja, terjadi perkembangan bahasa yang penting. Pada usia dewasa terjadi perbedaan-perbedaan yang sangat besar antara individu yang satu dan yang lain dalam perkembangan bahasanya.
2.        Dilihat dari Perkembangan pragmatik, selama periode usia sekolah, proses kognitif meningkat sehingga memungkinkan anak menjadi komunikator yang lebih efektif. Anak-anak mulai mengenal adanya berbagai pandangan mengenai suatu topik. Mereka dapat mendeskripsikan sesuatu, tetapi deskripsi yang mereka buat lebih bersifat personal dan tidak mempertimbangkan makna informasi yang disampaikannya bagi pendengar.
3.        Dilihat dari Perbedaan bahasa anak laki-laki dan perempuan, perbedaan bahasa anak laki-laki dan perempuan dapat dilihat pada kosakata yang digunakan dan gaya bicara.
4.        Dilihat dari Tahap-tahap Perkembangan bahasa anak, tahap pralinguistik (masa Meraba), tahap satu kata, tahap dua kata dan tahap banyak kata.
5.    Dilihat dari implikasi perkembangan bahasa anak dalam proses pembelajaran, yaitu untuk menciptakan situasi yang memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan bahasanya. Kesempatan ini dapat di lakukan melalui kegiatan bercerita, bertanya dan menjawab pertanyaan. Dan juga dapat menyediakan sarana pendukung perkembangan bahasa anak. Misalnya, menyediakan alat permainan.

3.2 Saran
3.2.1 Bagi Pembaca
          Saran-saran yang dapat diberikan penulis pada pembaca yaitu sebagai berikut. Penulis menyarankan agar para pembaca terlebih dahulu mengerti pengertian perkembangan bahasa anak, hakikat perkembangan bahasa anak, dan juga tahap-tahap perkembangan bahasa anak.
3.2.2 Bagi Penulis
          Dilihat dari hasil yang diperoleh penulis yang kurang memuaskan, alangkah baiknya bila disetiap pengerjaan makalah ini anggota kelompok saling mendukung satu sama lain. Oleh karena itu, penulis mengharapkan tegur dan saran dari para pembaca agar dalam penulisan selanjutnya lebih baik.

           









 

6 komentar:

  1. thank you, makalahnya sangat mmbntu q

    BalasHapus
  2. iyaa.. sama-sama, smoga bermanfaat :)

    BalasHapus
  3. assalamualaikum Ukhti, makalahnya sangat membantu, boleh minta daftar pustakanya? aku butuh daftar pustakanya. please send ke email aku di nourmarianadewi@gmail.com

    BalasHapus
  4. waalaikumsalam.. maaf ya komentarnya baru di balas.. ini daftar pustakanya, maaf juga ketinggalan waktu ngeposting nyaa..
    DAFTAR PUSTAKA
    Hartati, Tatat dkk. 2010. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Bandung: UPI PRESS
    Tarigan, Djago dkk. 2000. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Universitas Terbuka

    BalasHapus
  5. assalamualaikum ukhti.. saya mau tanya pengertian "penguasaan bahasa anak (anak usia 4-6 tahun) itu apa ?? *menurut pemikiran ukhti.

    mohon dibalas karena saya kurang paham... jika ada yang tau boleh kok berkomentar. trimakasih. salam.

    BalasHapus
  6. assalamualaikum ukhti.. saya mau tanya pengertian "penguasaan bahasa anak (anak usia 4-6 tahun) itu apa ?? *menurut pemikiran ukhti.

    mohon dibalas karena saya kurang paham... jika ada yang tau boleh kok berkomentar. trimakasih. salam.

    BalasHapus